Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Agustus 2019

JURNAL ANALISIS FAKTOR PENGHAMBAT PENYEMBUHAN DIABETIC FOOT ULCER DI KLINIK KITAMURA PONTIANAK (PDF)

Lydia Yuniarsih
Abstrak
Belakang : Jumlah penderita diabetes mellitus (DM) terus meningkat. Komplikasi yang umum terjadi pada penyakit DM adalah diabetic foot ulcer (DFU). Lambatnya penanganan DFU akan berdampak pada peningkatan keparahan luka, sehingga mengganggu proses perbaikan luka. Hambatan penyembuhan luka disebabkan oleh berbagai faktor yang berisiko tinggi untuk berkembang menjadi luka kronis, amputasi, bahkan kematian. Tujuan : Untuk mengetahui status demografi, karakteristik luka, serta hubungan antara usia, saturasi oksigen, status infeksi, stress, dan riwayat terapi medikasi dengan hambatan penyembuhan DFU di Klinik Kitamura Pontianak. Metode : Penelitian ini bersifat kuantitatif analitik dengan desain cohort retrospektif. Sampel yang digunakan adalah 62 orang dengan teknik pengambilan sampel berupa purposive sampling. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Gamma dan Somer’s, sedangkan analisis multivariat menggunakan model regresi logistik. Dasar pengambilan keputusan apabila nilai p < 0,05.  Hasil : Hasil analisis bivariat ditemukan bahwa usia memiliki nilai p = 0,280, saturasi oksigen memiliki nilai p = 0,001, status infeksi memiliki nilai p = 0,000, stress memiliki nilai p = 0,000, dan riwayat terapi medikasi memiliki nilai p = 0,296. Uji multivariat didapati bahwa kekuatan hubungan saturasi oksigen bernilai OR = 5,083, status infeksi bernilai OR = 9,364, dan stress bernilai OR = 19,789 terhadap hambatan penyembuhan DFU. Kesimpulan : Faktor yang paling dominan dalam menghambat penyembuhan DFU di Klinik Kitamura Pontianak adalah stress.
Kata Kunci : diabetes mellitus, diabetic foot ulcer, penyembuhan luka terhambat.

Full text : PDF

Minggu, 30 September 2018

Trend dan Issue Pengaruh Relaksasi Otot Progresif Terhadap Insomnia Pada Lansia



Lansia merupakan dewasa akhir atau usia tua sebagai periode penutup bagi rentang kehidupan seseorang, dimana telah terjadi kemunduran fisik dan psikologis secara bertahap (Hurlock, 1980 dalam Erliana, dkk). Kemunduran fungsi tubuh membutuhkan adaptasi agar tidak berdampak negatif pada seorang lansia. Penurunan fungsi pada lansia menyebabkan berbagai permasalahan, baik secara ekonomi, sosial budaya, kesehatan, dan psikologis. Meskipun terjadi kesadaran mendalam pada individu lansia, akan tetapi tidak jarang juga terjadinya penolakan individu pada fase penuaan. Masa lansia identik dengan masa penurunan dan ketidakberdayaan, serta menjadikannya rentan terhadap penyakit-penyakit kronis (Basuki, 2015).
Selengkapnya klik disini.

Analisa Jurnal Hipoglikemi pada Diabetes Mellitus

Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit kronis gangguan metabolik disertai dengan kondisi hiperglikemia (Jameson, 2013). Kasus DM terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 1980 terdapat 108 juta penyandang diabetes, kemudian meningkat menjadi 422 juta orang pada tahun 2014 (WHO, 2017). International Diabetes Federation (IDF) (2017) menyatakan bahwa penderita diabetes pada tahun 2017 bertambah 10 juta orang daripada tahun 2015. Diperkirakan bahwa 1 dari 11 orang dewasa di dunia menderita diabetes dan lebih dari 350 juta orang dewasa berisiko tinggi terkena diabetes tipe 2 (IDF, 2017). Sekitar 1,6 juta orang meninggal akibat diabetes pada tahun 2015 (WHO, 2017).
Hingga saat ini, DM menjadi beban ganda permasalahan kesehatan karena meningkatkan morbiditas, disabilitas, dan mortalitas. Atlas Diabetes (2013) melaporkan bahwa terdapat 366 juta individu terkena diabetes dan berdasarkan pengukuran data saat ini, Asia dan Afrika akan memiliki proporsi penderita DM tertinggi pada tahun 2030 (Rhee, 2015). Angka DM bertambah pesat, terutama di negara berpenghasilan menengah dan rendah yang berkaitan dengan peningkatan jumlah penduduk, angka harapan hidup, dan perubahan pola hidup.
Dalam penatalaksanaannya, pengendalian hiperglikemik pada DM dapat dilakukan melalui terapi farmakologis maupun non farmakologis. Salah satu penanganannya adalah dengan menggunakan terapi insulin. Akan tetapi, dampak dari penggunaan insulin yang keliru dapat menyebabkan hipoglikemik. Hipoglikemik merupakn kondisi kadar gula darah kurang dari rentang normal (<50 mg/dL).

Kondisi hipoglikemik merupakan keadaan darurat endokrin yang dapat mengakibatkan kerusakan neurologis, bahkan kematian karena berkaitan erat dengan metabolisme pada otak. Pemicu lainnya dari keadaan hipoglikemik adalah kelainan endokrin, keganasan, malnutrisi, insufisiensi ginjal, dan lain-lain (Abhilash et al., 2017). Hingga saat ini, hipoglikemik masih sering terjadi pada penderita DM karena kegagalan dalam mengontrol kadar gula darah.
Selengkapnya klik disini.

Analisis Jurnal : Palliative Care pada Pasien HIV/AIDS


Perawatan paliatif merupakan pendekatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga yang berhubungan dengan penyakit yang dapat mengancam jiwa melalui pencegahan dan pemulihan penderitaan pasien dengan identifikasi dini (WHO). Di Indonesia, palliative care telah di kenal sejak tahun 1989 melalui Peraturan Menteri Kesehatan No. 604/MENKES/SK/IX/1989 tentang Program Pengendalian Kanker Nasional. Dengan adanya peraturan ini, pemerintah menciptakan 4 kelompok kerja, yang di antaranya berfokus pada pengembangan perawatan paliatif dan  manajemen nyeri untuk pasien kanker. Perawatan paliatif telah dimulai sejak tahun 1992 dan menjadi agenda pemerintah sejak tahun 2007 dengan diterbitkannya Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 812/Menkes/SK/VII/2007 tentang Kebijakan Perawatan Paliatif (Lala, Wagey, & Loho, 2016).
Menurut Julia E. Kasl-Godley, Deborah A. King, dan Timothy E. Quill (2014) dalam artikel Opportunities for Psychologists in Palliative Care, layanan palliative care interdisipliner bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan pasien dan keluarga, serta mengurangi penderitaannya yang didukung dengan adanya pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran dalam memberikan perawatan secara efektif. Pada perawatan primer, kontribusi berfokus pada transformasi penyampaian informasi kesehatan. Evaluasi praktik terbaik mencakup integrasi kesehatan mental.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lala, Wagey, & Loho (2016) dalam jurnal yang berjudul “Evaluasi Penanganan Kanker Serviks di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Periode 1 Januari 2013 – 31 Desember 2014” menggunakan jenis penelitian deskriptif retrospektif pada pasien kanker serviks di bagian Obstetri Ginekologi memperlihatkan penanganan yang paling banyak ialah terapi paliatif (66,7%). Terapi ini bertujuan sebagai terapi simtomatik dalam mengatasi gejala yang memperburuk kualitas hidup pasien dan keadaan umum pasien, terutama pada pasien stadium akhir. Indikasi dari pemberian terapi berdasarkan stadium dan kondisi pasien.
Teknik pendekatan dengan menggunakan perawatan paliatif diberikan kepada pasien-pasien terminal atau tahap akhir. Perawatan paliatif bersifat terapi suportif, sehingga bukan sebagai suatu upaya penyembuhan, melainkan untuk meringankan penderitaan klien secara holistik, baik dari segi biologis, psikologis, sosial, dan spiritual agar dapat menerima kondisinya dan merasa nyaman. Perawatan ini tidak berfokus kepada peningkatan kondisi fisik klien, akan tetapi lebih menekankan kepada dukungan dan pemberian informasi bagi klien maupun keluarga. Oleh karena itu, paliatif care yang kini berkembang tidak terbatas pada perawatan di rumah sakit, namun meluas sesuai dengan kebutuhan pasien dan keluarga dalam meningkatkan kesejahteraan hidup. Beberapa penyakit yang umumnya mendapatkan perawatan paliatif, ialah HIV/AIDS, kanker, diabetes mellitus, dan lain-lain.
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah suatu kondisi virus menyerang sel darah putih di dalam tubuh (limfosit) yang mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh individu. Sedangkan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah suatu sindrom atau kumpulan dan gejala penyakit yang diakibatkan oleh retrovirus yang menyerang sistem pertahanan tubuh. HIV/AIDS adalah satu di antara penyakit dengan persebaran yang cepat dan prevalensinya tinggi. Permasalahan yang masih sering terjadi yaitu rendahnya deteksi dini pada kasus HIV. Hal ini mengakibatkan penemuan kasus pada tahap AIDS akan memperburuk prognosis pasien.
Angka kejadian HIV di Indonesia pada tahun 2013 hingga 2015 secara berurut-turut, yaitu 29.037, 32.711, dan 30.935 (Kemenkes RI, 2016). Sedangkan kejadian pada kasus AIDS pada tahun 2013 hingga 2015, yaitu 11.682; 7.864, dan 6.373. Prevalensi faktor risiko penularan kasus HIV/AIDS terbanyak, yaitu melalui heteroseksual (58,7%), penasun (17,9%), perinatal (2,7%), dan homoseksual (2,3%) (Kemenkes RI, 2012). Higga kini, morbiditas dan mortalitas kasus HIV/AIDS semakin berkurang karena adanya suatu upaya pengendalian virologi dengan menggunakan antiretroviral yang diiringi perawatan paliatif, sehingga lebih memperpanjang hidup dan meningkatkan kualitas hidup klien (Lowther et al., 2014).
Selengkapnya klik disini.

Selasa, 26 Desember 2017

Literature Review : Pengaruh Terapi Palliative Care pada Pasien Kanker

Lydia Yuniarsih
Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura
lydiayuniarsih21@gmail.com
Abstrak
Kanker merupakan pertumbuhan sel abnormal yang cepat, tidak terkendali, infiltrasi, metastase, dan bersifat mematikan. Hingga kini, kanker masih penyebab utama mortalitas secara global. Berdasarkan analisa 5 literatur dan 2 tambahan referensi di dapatkan pengaruhi terapi palliative care pada pasien kanker. Masalah pada pasien kanker bersifat kompleks, meliputi fisik, psikososial, dan spiritual, terutama pada kanker stadium lanjut atau pasien terminal. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang tidak hanya bersifat kuratif, namun bersifat holistik, di antaranya melalui palliative care. Palliative care bertujuan untuk memperbaiki kualitas hidup klien dan keluarga, mengurangi nyeri dan persiapan kematian bagi klien yang dilakukan oleh tim multidisiplin dengan melibatkan keluarga. Terapi ini hendaknya diberikan sejak awal perjalanan penyakit bersamaan dengan terapi lainnya. Pendekatan berdasarkan pengetahuan, keterampilan, dan kesejateraan dalam memberikan perawatan secara efektif dengan standarisasi evaluasi praktik yang mencakup integrasi kesehatan mental.

Kata Kunci: kanker, kualitas hidup, palliative care

Selengkapnya klik disini

Jumat, 12 Mei 2017

Literature Review : Pengaruh Terapi Palliative Care pada Pasien Kanker

Abstrak
Kanker merupakan pertumbuhan sel abnormal yang cepat, tidak terkendali, infiltrasi, metastase, dan bersifat mematikan. Hingga kini, kanker masih penyebab utama mortalitas secara global. Berdasarkan analisa 5 literatur dan 2 tambahan referensi di dapatkan pengaruhi terapi palliative care pada pasien kanker. Masalah pada pasien kanker bersifat kompleks, meliputi fisik, psikososial, dan spiritual, terutama pada kanker stadium lanjut atau pasien terminal. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang tidak hanya bersifat kuratif, namun bersifat holistik, di antaranya melalui palliative care. Palliative care bertujuan untuk memperbaiki kualitas hidup klien dan keluarga, mengurangi nyeri dan persiapan kematian bagi klien yang dilakukan oleh tim multidisiplin dengan melibatkan keluarga. Terapi ini hendaknya diberikan sejak awal perjalanan penyakit bersamaan dengan terapi lainnya. Pendekatan berdasarkan pengetahuan, keterampilan, dan kesejateraan dalam memberikan perawatan secara efektif dengan standarisasi evaluasi praktik yang mencakup integrasi kesehatan mental.
Kata Kunci: kanker, kualitas hidup, palliative care
Selengkapnya klik disini atau klik opsi link disini

Minggu, 26 Maret 2017

Pengkajian Sistem Sensori Persepsi : Konjungtivis Alergi

Konjungtivis alergi merupakan suatu peradangan alergi pada konjungtiva (selaput yang menutupi kelopak mata bagian dalam dan permukaan mata). Reaksi alergi pada konjungtivis alergi dapat mengakibatkan pelepasan histamin dan pelebaran pembuluuh darah di dalam kongjungtiva. Bagian putih mata menjadi merah dan bengkak. Mata terasa gatal dan berair. Kelopak mata membengkak dan merah. Konjungtivis alergi dapat terjadi melalui kontak langsung dengan partikel-partikel di udara, seperti debu, serbuk sari, bulu hewan, dan spora jamur.
Kasus Pemicu :
Nn. Mirna usia 18 tahun siswi MAN 1 Sungai Kakap datang ke Poli mata RSUD Lyriztaza dengan keluhan kedua mata merah (hyperemia). Pada awalnya hanya mata kiri yang merah sejak 4 hari lalu, 2 hari kemudian diikuti oleh mata kanan. Mata tampak bengkak, rasa berpasir pada mata, gatal, perih, adanya pengeluaran cairan seperti air, adanya kotoran berwarna kekuningan terutama pada pagi hari ketika bangun tidur dan mata terasa silau (fotofobia). Mirna merasa terkadang pandangan tampak kabur, namun setelah berkedip maka pandangan dapat kembali pulih. Mirna sering tidur larut malam untuk menyelesaikan tugas-tugasnya karena dia termasuk siswi yang aktif di sekolahnya. Sebelumnya Mirna tidak memiliki riwayat penyakit atau kelainan pada mata atau penglihatan, begitu pula keluarganya, sehingga belum pernah menggunakan obat-obatan terkait penyakit mata. Saat melakukan pengujian fisiologis pada mata, visus mata kanan dan kiri adalah 6/6, tidak terdapat masalah pada lapang pandang, pupil kanan dan kiri adalah ± 3mm, dan lensa jernih.
Paper lengkap, silakan Klik disini
Hasil gambar untuk konjungtivitis alergi

Sabtu, 07 Mei 2016

SATUAN ACARA PENGAJARAN GIZI SEIMBANG


Topik                           : Gizi seimbang pada remaja
Sasaran                        : Siswa/i kelas XII IPA SMA Negeri 2 Sungai Kakap
Hari/ Tanggal                : Sabtu / 9 Januari 2016
Waktu                          : 1 x 35 menit (08.00-08.35 WIB)
Tempat                         : Ruang kelas XII IPA SMA Negeri 2 Sungai Kakap

I.        Tujuan Instruksional Umum
Setelah diberikan pendidikan kesehatan selama 35 menit, diharapkan sasaran dapat memahami gizi seimbang dan menerapkan perilaku gizi seimbang.
II.     Tujuan Instruksional Khusus
Setelah diberikan pendidikan kesehatan selama 35 menit, diharapkan klien dapat :
1.      Memahami tentang pengertian gizi seimbang;
2.      Mengetahui pengelompokan bahan pangan;
3.      Memahami prinsip gizi seimbang;
4.      Memahami masalah gizi yang di derita remaja;
5.      Menerapkan Pedoman Gizi Seimbang; dan
6.      Menerapkan Prinsip 4 Pilar.

III.   Materi
Terlampir.

IV.  Strategi Penyampaian
1.      Metode
·        Ceramah
·        Diskusi
2.      Media
·        Leaflet

·        Laptop
SSelengkapnya unduh di SAP Gizi Seimbang



Jumat, 06 Mei 2016

ANALISIS JURNAL PERAN PROBIOTIK TERHADAP TERAPI DIARE PADA LANSIA

 I.       Identitas Jurnal

·        Judul                      : Peran Probiotik Terhadap Terapi Diare Pada Lansia
·        Penulis                    : Nurmawati Fatimah
·        Penerbit                  : Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran
..Universitas Airlangga

II.    Ringkasan Jurnal
Probiotik adalah substansi yang terdiri dari mikroorganisme yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia atau hewan secara oral untuk menstimulasi pertumbuhan mikroorganisme lain dalam bentuk olahan susu fermentasi, yogurt, keju, mentega, sari buah, dan susu formula yang difortifikasi dengan bakteri asam laktat. Diharapkan mikroba tersebut dapat memberikan pengaruh positif bagi kesehatan dengan cara memperbaiki sifat mirkoba alami di dalam tubuh manusia atau hewan.
Probiotik berfungsi untuk meningkatkan imunitas, mengurangi gejala intoleransi laktosa, mengurangi alergi makanan, meningkatkan absorbs mineral, memiliki efek antikarsinogenik, regulasi metabolisme lemak, menurunkan waktu diare, meningkatkan fungsi saluran pencernaan, dan menghilangkan Inflammation Bowel Disease (IBD) (Info POM, 2002). Subijanto Rohim (2002) membagi probiotik menjadi tiga golongan, yaitu :
1.      golongan Lactobacilli, seperti L. Acidophilus, L. Casei, L. brevis, L. Fermentum, dll;
2.      golongan Bifibacteria, seperti B. Bifidum, B. Adolescentris, B. Longwn, dll;
3.      golongan gram positif, seperti Lactococcus latis subsp.cremoris. Streptococcus intermedius, Enterococcus faecium, dll.
Indikasi dari pemberian probiotik, antara lain konstipasi, diare, intoleransi laktosa, alergi, pasien dengan daya tahan tubuh lemah. Pemberian probiotik harus diperhatikan pada penderita dengan reaksi hipersensitivitas terhadap probiotik. Selain itu, penggunaan probiotik juga harus dihindari pada pasien yang sakit berat, seperti pasien yang dirawat di ICU atau pasien yang belum dapat makan normal akibat sakit (Sukarliono, 2008). Pada pengobatan terhadap diare diperlukan dosis probiotik, yaitu 109-1010 organisme per hari atau setara dengan 3 - 3 ½ cup susu yang mengandung acidophillus atau yogurt (Dairy council, 2000).
Probiotik menghambat pertumbuhan dan kolonisasi patogen potensial dengan asam laktat dan asetat sebagai PAM (produk akhir metabolisme) yang menurunkan pH menidum. Probiotik juga membentuk PAM yang bersifat inhibitorik terhadap bakteri patogen (gram positif maupun gram negatif) (Lisal, 2005). Probiotik dapat memproduksi antibakterial yang terdiri dari asam laktat, peroksidase, bakteriosin, nisin, asam organik, mikrosin, reuterin, asam lemak volatil, dan ion hidrogen, serta kemampuan proteolitik pada Lactobacillus plantarum konversional untuk degradasi protein, sehingga dapat mencegah vims ataupun tumor (Rohim, Subijanto, 2002). Probiotik merupakan bakteri baik yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen dengan cara bersaing untuk mendapatkan nutrisi, sehingga bakteri patogen tidak dapat berkembang. Probiotik mampu menempel pada sel epitel mukosa usus (enterosit) dan berkompetisi dengan bakteri patogen untuk reseptor adhesi. Enterosit yang telah jenuh tidak dapat melekat dengan bakteri lain (Rohim, Subijanto, 2002).


selengkapnya klik link ini :
ANALISIS_JURNAL_PERAN_PROBIOTIK_TERHADAP_TERAPI_DIARE_PADA_LANSIA.pdf

PROPOSAL PENELITIAN PENGARUH KEBIASAAN MEROKOK DAN AKTIVITAS FISIK PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI RSUD SULTAN SYARIF MOHAMMAD ALKADRIE KOTA PONTIANAK

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Sehat merupakan satu diantara parameter utama kehidupan yang makmur dan sejahtera. Definisi sehat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah keadaan seluruh badan dan bagian-bagiannya bebas dari sakit. Menurut UU kesehatan No.21 tahun 1992, sehat merupakan keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap individu untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Sedangkan menurut WHO (World Health Organization) / Badan Kesehatan Dunia, sehat adalah keadaan sejahtera secara fisik, mental, maupun sosial dan bukan hanya sekedar tidak adanya penyakit maupun cacat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa definisi sehat adalah keadaan terbebas dari penyakit secara fisik, mental, dan sosial sehingga seorang individu dapat melakukan aktivitas secara optimal (Arvianti, 2009).
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2013 tentang Peta Jalan Pengendalian Dampak Konsumsi Rokok Bagi Kesehatan menyatakan bahwa kesehatan merupakan satu diantara unsur dari Hak Asasi Manusia (HAM) yang berperan penting bagi pembentukan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, peningkatan ketahanan, daya saing bangsa, dan pembangunan nasional. Satu di antara upaya dalam pembangunan nasional adalah pembangunan kesehatan guna mencapai kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk di Indonesia. Sistem Kesehatan Nasional (SKN) mengatakan bahwa upaya pembangunan dalam bidang kesehatan di Indonesia diarahkan untuk mencerminkan derajat kesehatan yang lebih tinggi (Adiningsih, 2011). Hal ini sesuai dengan cita-cita Bangsa Indonesia dalam perwujudan dari unsur kesejahteraan demi mencapai standar kehidupan yang lebih optimal dalam berbagai bidang sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Pada era globalisasi, pertumbuhan pembangunan di Indonesia sedang dihadapkan pada transisi epidemiologi, demografi, dan teknologi yang disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam hal sosial ekonomi, lingkungan dan struktur penduduk yang mengakibatkan masyarakat mengadopsi gaya hidup dan budaya luar, serta belum memahami tentang pentingnya kesehatan. Pembangunan kesehatan di Indonesia saat ini dihadapkan pada dua masalah ganda (double burden), yaitu penyakit menular (PM) dan penyakit tidak menular (PTM). Beberapa pola hidup yang tidak sehat, diantaranya konsumsi makanan tinggi lemak dan kalori tanpa diiringi dengan aktivitas fisik untuk membakar lemak dan kalori di dalam tubuh. Selain itu, kebiasaan merokok, minum minuman keras, maupun mengonsumsi narkoba yang diduga sebagai faktor risiko terjadinya PTM. Beberapa masalah kesehatan PTM, seperti penyakit rheumatic, diabetes mellitus, jantung, ginjal, stroke, dan lain-lain (Nuryati, 2009; Anugrah, Hasbullah, dan Suarnianti, 2013; Rahajeng dan Sulistyowati, 2011 dalam Aripin, 2015).
Dalam menciptakan kondisi sehat yang optimal diperlukan keseimbangan (balance) untuk menjaga kesehatan tubuh. Faktor determinan yang mempengaruhi derajat kesehatan seorang individu, antara lain fakor gaya hidup (life style), faktor lingkungan (sosial, ekonomi, politik, dan budaya), faktor pelayanan kesehatan (jenis cakupan dan kualitasnya), dan fakor genetik (keturunan). Diantara beberapa faktor tersebut, faktor dominan yang sukar untuk ditanggulangi adalah faktor gaya hidup yang disusul dengan faktor lingkungan dikarenakan derajat kesehatan masyarakat dalam hal tersebut dipengaruhi oleh interaksi antar individu. Indikator gaya hidup sehat yang diutarakan oleh Becker (1979) dalam Notoatmodjo, mencakup makan dengan menu seimbang (appropriate diet), olahraga teratur, tidak merokok, tidak mengonsumsi narkoba dan minum-minuman keras, istirahat yang cukup, mengendalikan stress, dan perilaku lainnya yang bersifat positif bagi kesehatan (Arvianti, 2009)

Selengkapnya Klik di sini




Jumat, 13 November 2015

Unduh materi kesehatan

Anthokalin
Analisis Faktor Penghambat Penyembuhan Diabetic Foot Ulcer di Klinik Kitamura Pontianak
x

Penyebab Mudah Mengantuk dan Mudah Lelah


1. Anemia (kurang darah) 
Kekurangan darah menyebabkan kurangnya zat besi. Sel darah merah (eritrosit) yang diperlukan untuk membawa oksigen ke jaringan dan organ tubuh pun berkurang, sehingga menyebabkan sering merasa ngantuk.

2. Hipotiroid (menurunnya produksi hormon tiroid)
Tiroid adalah kelenjar kecil di dasar leher yang berfungsi mengontrol metabolisme dan kecepatan mengubah bahan bakar menjadi energi. Ketika kelenjar kurang aktif dan fungsi metabolisme terlalu lambat menybabkan badan lesu dan selalu mengantuk.

3. Diabetes
Glukosa adalah bahan bakar dari energi yang dilepaskan dalam sel-sel karena adanya oksigen. Orang dengan diabetes tipe-2 memiliki tingkat glukosa darah yang tinggi sehingga tubuh tidak dapat menyediakan energi. Oleh karena itu, individu dengan diabetes tipe-2 selalu merasa lelah dan mengantuk.
 4. Dehidrasi
Kelelahan dan kantuk termasuk tanda dehidrasi. Sehingga, segeralah cukupi kebutuhan air dalam tubuh.
5. Depresi
Depresi bukan hanyan gangguan emosi tetapi juga gejala fisik. Kelelahan, selalu mengantuk, sakit kepala dan kehilangan nafsu makan adalah gejala umum depresi.
6. Gangguan tidur
Gangguan tidur seperti sleep apnea dan insomnia dapat menyebabkan kelelahan dan kantuk terus-menerus. Tidur digunakan untuk memfungsikan tubuh kembali, sel-sel tubuh memperbaiki dan meremajakan diri. Sementara pada orang yang menderita kurang tidur, maka sistem pernapasan akan terhambat sehinggamenyebabkan kelelahan dan kantuk.
7. Penyakit jantung
Ketika mudah merasa lelah dan mengantuk dalam melakukan kegiatan sehari-hari bisa menjadi gejala , sebaiknya Anda harus penyakit jantung, sehingga pastikanlah bahwa jantung Anda dalam keadaaan yang baik
8. Sindrom kelelahan kronis
Lelah biasanya segera hilang saat dibawa istirahat. Tapi untuk sindrom kelelahan kronis (chronic fatigue syndrome), lelah tidak cepat hilang dan biasanya ditandai dengan kelesuan, mengantuk, lekas marah, nyeri otot dan dalam beberapa kasus terjadi hilangnya memori.

Kaos Kaki Jempol Tapak Hitam

Kaos Kaki Jempol _____________________________________________________ Bahan lembut, lentur, nyaman di kaki dan telapak hitam, jadi tidak mu...