Tampilkan postingan dengan label Catatan Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Kuliah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Agustus 2019

JURNAL ANALISIS FAKTOR PENGHAMBAT PENYEMBUHAN DIABETIC FOOT ULCER DI KLINIK KITAMURA PONTIANAK (PDF)

Lydia Yuniarsih
Abstrak
Belakang : Jumlah penderita diabetes mellitus (DM) terus meningkat. Komplikasi yang umum terjadi pada penyakit DM adalah diabetic foot ulcer (DFU). Lambatnya penanganan DFU akan berdampak pada peningkatan keparahan luka, sehingga mengganggu proses perbaikan luka. Hambatan penyembuhan luka disebabkan oleh berbagai faktor yang berisiko tinggi untuk berkembang menjadi luka kronis, amputasi, bahkan kematian. Tujuan : Untuk mengetahui status demografi, karakteristik luka, serta hubungan antara usia, saturasi oksigen, status infeksi, stress, dan riwayat terapi medikasi dengan hambatan penyembuhan DFU di Klinik Kitamura Pontianak. Metode : Penelitian ini bersifat kuantitatif analitik dengan desain cohort retrospektif. Sampel yang digunakan adalah 62 orang dengan teknik pengambilan sampel berupa purposive sampling. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Gamma dan Somer’s, sedangkan analisis multivariat menggunakan model regresi logistik. Dasar pengambilan keputusan apabila nilai p < 0,05.  Hasil : Hasil analisis bivariat ditemukan bahwa usia memiliki nilai p = 0,280, saturasi oksigen memiliki nilai p = 0,001, status infeksi memiliki nilai p = 0,000, stress memiliki nilai p = 0,000, dan riwayat terapi medikasi memiliki nilai p = 0,296. Uji multivariat didapati bahwa kekuatan hubungan saturasi oksigen bernilai OR = 5,083, status infeksi bernilai OR = 9,364, dan stress bernilai OR = 19,789 terhadap hambatan penyembuhan DFU. Kesimpulan : Faktor yang paling dominan dalam menghambat penyembuhan DFU di Klinik Kitamura Pontianak adalah stress.
Kata Kunci : diabetes mellitus, diabetic foot ulcer, penyembuhan luka terhambat.

Full text : PDF

Minggu, 30 September 2018

Trend dan Issue Pengaruh Relaksasi Otot Progresif Terhadap Insomnia Pada Lansia



Lansia merupakan dewasa akhir atau usia tua sebagai periode penutup bagi rentang kehidupan seseorang, dimana telah terjadi kemunduran fisik dan psikologis secara bertahap (Hurlock, 1980 dalam Erliana, dkk). Kemunduran fungsi tubuh membutuhkan adaptasi agar tidak berdampak negatif pada seorang lansia. Penurunan fungsi pada lansia menyebabkan berbagai permasalahan, baik secara ekonomi, sosial budaya, kesehatan, dan psikologis. Meskipun terjadi kesadaran mendalam pada individu lansia, akan tetapi tidak jarang juga terjadinya penolakan individu pada fase penuaan. Masa lansia identik dengan masa penurunan dan ketidakberdayaan, serta menjadikannya rentan terhadap penyakit-penyakit kronis (Basuki, 2015).
Selengkapnya klik disini.

Analisa Jurnal Hipoglikemi pada Diabetes Mellitus

Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit kronis gangguan metabolik disertai dengan kondisi hiperglikemia (Jameson, 2013). Kasus DM terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 1980 terdapat 108 juta penyandang diabetes, kemudian meningkat menjadi 422 juta orang pada tahun 2014 (WHO, 2017). International Diabetes Federation (IDF) (2017) menyatakan bahwa penderita diabetes pada tahun 2017 bertambah 10 juta orang daripada tahun 2015. Diperkirakan bahwa 1 dari 11 orang dewasa di dunia menderita diabetes dan lebih dari 350 juta orang dewasa berisiko tinggi terkena diabetes tipe 2 (IDF, 2017). Sekitar 1,6 juta orang meninggal akibat diabetes pada tahun 2015 (WHO, 2017).
Hingga saat ini, DM menjadi beban ganda permasalahan kesehatan karena meningkatkan morbiditas, disabilitas, dan mortalitas. Atlas Diabetes (2013) melaporkan bahwa terdapat 366 juta individu terkena diabetes dan berdasarkan pengukuran data saat ini, Asia dan Afrika akan memiliki proporsi penderita DM tertinggi pada tahun 2030 (Rhee, 2015). Angka DM bertambah pesat, terutama di negara berpenghasilan menengah dan rendah yang berkaitan dengan peningkatan jumlah penduduk, angka harapan hidup, dan perubahan pola hidup.
Dalam penatalaksanaannya, pengendalian hiperglikemik pada DM dapat dilakukan melalui terapi farmakologis maupun non farmakologis. Salah satu penanganannya adalah dengan menggunakan terapi insulin. Akan tetapi, dampak dari penggunaan insulin yang keliru dapat menyebabkan hipoglikemik. Hipoglikemik merupakn kondisi kadar gula darah kurang dari rentang normal (<50 mg/dL).

Kondisi hipoglikemik merupakan keadaan darurat endokrin yang dapat mengakibatkan kerusakan neurologis, bahkan kematian karena berkaitan erat dengan metabolisme pada otak. Pemicu lainnya dari keadaan hipoglikemik adalah kelainan endokrin, keganasan, malnutrisi, insufisiensi ginjal, dan lain-lain (Abhilash et al., 2017). Hingga saat ini, hipoglikemik masih sering terjadi pada penderita DM karena kegagalan dalam mengontrol kadar gula darah.
Selengkapnya klik disini.

Analisis Jurnal : Palliative Care pada Pasien HIV/AIDS


Perawatan paliatif merupakan pendekatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga yang berhubungan dengan penyakit yang dapat mengancam jiwa melalui pencegahan dan pemulihan penderitaan pasien dengan identifikasi dini (WHO). Di Indonesia, palliative care telah di kenal sejak tahun 1989 melalui Peraturan Menteri Kesehatan No. 604/MENKES/SK/IX/1989 tentang Program Pengendalian Kanker Nasional. Dengan adanya peraturan ini, pemerintah menciptakan 4 kelompok kerja, yang di antaranya berfokus pada pengembangan perawatan paliatif dan  manajemen nyeri untuk pasien kanker. Perawatan paliatif telah dimulai sejak tahun 1992 dan menjadi agenda pemerintah sejak tahun 2007 dengan diterbitkannya Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 812/Menkes/SK/VII/2007 tentang Kebijakan Perawatan Paliatif (Lala, Wagey, & Loho, 2016).
Menurut Julia E. Kasl-Godley, Deborah A. King, dan Timothy E. Quill (2014) dalam artikel Opportunities for Psychologists in Palliative Care, layanan palliative care interdisipliner bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan pasien dan keluarga, serta mengurangi penderitaannya yang didukung dengan adanya pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran dalam memberikan perawatan secara efektif. Pada perawatan primer, kontribusi berfokus pada transformasi penyampaian informasi kesehatan. Evaluasi praktik terbaik mencakup integrasi kesehatan mental.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lala, Wagey, & Loho (2016) dalam jurnal yang berjudul “Evaluasi Penanganan Kanker Serviks di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Periode 1 Januari 2013 – 31 Desember 2014” menggunakan jenis penelitian deskriptif retrospektif pada pasien kanker serviks di bagian Obstetri Ginekologi memperlihatkan penanganan yang paling banyak ialah terapi paliatif (66,7%). Terapi ini bertujuan sebagai terapi simtomatik dalam mengatasi gejala yang memperburuk kualitas hidup pasien dan keadaan umum pasien, terutama pada pasien stadium akhir. Indikasi dari pemberian terapi berdasarkan stadium dan kondisi pasien.
Teknik pendekatan dengan menggunakan perawatan paliatif diberikan kepada pasien-pasien terminal atau tahap akhir. Perawatan paliatif bersifat terapi suportif, sehingga bukan sebagai suatu upaya penyembuhan, melainkan untuk meringankan penderitaan klien secara holistik, baik dari segi biologis, psikologis, sosial, dan spiritual agar dapat menerima kondisinya dan merasa nyaman. Perawatan ini tidak berfokus kepada peningkatan kondisi fisik klien, akan tetapi lebih menekankan kepada dukungan dan pemberian informasi bagi klien maupun keluarga. Oleh karena itu, paliatif care yang kini berkembang tidak terbatas pada perawatan di rumah sakit, namun meluas sesuai dengan kebutuhan pasien dan keluarga dalam meningkatkan kesejahteraan hidup. Beberapa penyakit yang umumnya mendapatkan perawatan paliatif, ialah HIV/AIDS, kanker, diabetes mellitus, dan lain-lain.
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah suatu kondisi virus menyerang sel darah putih di dalam tubuh (limfosit) yang mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh individu. Sedangkan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah suatu sindrom atau kumpulan dan gejala penyakit yang diakibatkan oleh retrovirus yang menyerang sistem pertahanan tubuh. HIV/AIDS adalah satu di antara penyakit dengan persebaran yang cepat dan prevalensinya tinggi. Permasalahan yang masih sering terjadi yaitu rendahnya deteksi dini pada kasus HIV. Hal ini mengakibatkan penemuan kasus pada tahap AIDS akan memperburuk prognosis pasien.
Angka kejadian HIV di Indonesia pada tahun 2013 hingga 2015 secara berurut-turut, yaitu 29.037, 32.711, dan 30.935 (Kemenkes RI, 2016). Sedangkan kejadian pada kasus AIDS pada tahun 2013 hingga 2015, yaitu 11.682; 7.864, dan 6.373. Prevalensi faktor risiko penularan kasus HIV/AIDS terbanyak, yaitu melalui heteroseksual (58,7%), penasun (17,9%), perinatal (2,7%), dan homoseksual (2,3%) (Kemenkes RI, 2012). Higga kini, morbiditas dan mortalitas kasus HIV/AIDS semakin berkurang karena adanya suatu upaya pengendalian virologi dengan menggunakan antiretroviral yang diiringi perawatan paliatif, sehingga lebih memperpanjang hidup dan meningkatkan kualitas hidup klien (Lowther et al., 2014).
Selengkapnya klik disini.

Kamis, 28 Desember 2017

Kontribusiku untuk Agama, Bangsa, dan Negara di Masa yang Akan Datang

Saya merupakan mahasiswi Universitas Tanjungpura angkatan 2014 dengan spesialisasi prodi Ilmu Keperawatan. Dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga dengan latar belakang sederhana tidak menyurutkan niat saya untuk bermimpi. Sejak kecil, saya telah dididik untuk bekerja keras dan menghargai setiap usaha karena biaya pendidikan akademik yang saya tempuh berdasarkan hasil banting tulang kedua orang tua saya. Dalam menjalani proses pendidikan, saya selalu berusaha memberikan yang terbaik, setidaknya melalui prestasi setiap semester yang membuat orang tua saya tersenyum bangga bahwasanya hasil kerja keras mereka tidak sia-sia. Proses dan pengalaman inilah yang secara tidak langsung memotivasi saya untuk memberikan pengaruh besar di masa  depan melalui dunia kesehatan, terutama keperawatan. Pada awalnya saya merasa bingung bagaimana orang biasa seperti saya dapat berkontribusi bagi agama, bangsa, dan Negara Indonesia, sedangkan di luar sana begitu banyak orang-orang hebat yang hanya  mementingkan diri sendiri. Akan tetapi, saya menyadari bahwa pendidikan yang saya enyam menuntut saya untuk berperan bagi kemajuan peradaban.
Setiap orang bertumpu pada jalur kehidupannya masing-masing. Saya merupakan satu di antara anak bangsa yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan kelak akan berupaya berkontribusi bagi agama, bangsa, dan Negara tercinta sesuai  praktik keperawatan profesional. Semenjak memasuki stase praktik komprehensif rumah sakit, saya disuguhi dengan berbagai paradigma dan problematika manusia sebagai mahluk yang unik dengan beragam karakter. Seringkali pasien di rumah sakit hanya mengagungkan tenaga medis dan kesehatan dalam proses penyembuhan, tanpa menyadari bahwa kekuatan terbesar berasal dari Tuhan. Padahal, keseimbangan tubuh individu tidak hanya secara fisik, namun juga secara mental. Sehingga, tak jarang individu yang terlihat sehat secara biologis tetapi dinyatakan sakit  kondisi jiwanya. Meningkatnya permasalahan kesehatan mental di kalangan masyarakat karena tekanan hidup yang semakin marak seiring dengan perkembangan zaman tanpa diiringi pemahaman spiritual.
Buruknya stigma masyarakat bagi kesakitan jiwa  berakibat kesenjangan kesejahteraan hidup bagi penderita gangguan jiwa. Dampak yang ditimbulkan, seperti meningkatnya angka pengangguran dikarenakan mereka tidak mampu hidup secara mandiri, sehingga menambah beban masyarakat dan Negara. Bahkan, mantan penderita gangguan jiwa sering tidak memperoleh dukungan dari keluarga dan masyarakat, akan tetapi mendapatkan perlakuan diskriminatif yang menimbulkan tekanan dan kekambuhan, serta memperparah kondisi mereka. Berdasarkan problematika di atas, saya ingin mengangkat sebuah gagasan mental health center berbasis lingkungan yang berfungsi sebagai langkah preventif dan rehabilitatif bagi individu beresiko mengalami gangguan jiwa maupun mantan penderita gangguan jiwa. Alasan digunakan lingkungan dalam program ini agar mereka dapat hidup dan tinggal secara normal tanpa harus dikucilkan. Program ini bertujuan untuk membina spiritualitas, sosial, dan pemberdayaan ekonomi.

Dalam pelaksanaannya, perlu dilakukan pembinaan mental secara spiritual sesuai kepercayaan yang dianutnya untuk mencegah kejadian maupun kekambuhan gangguan jiwa. Pemahaman agama dan keyakinan yang baik dapat memperbaiki tingkat stress, membantu menemukan jati diri, dan tujuan hidup, sehingga memotivasi untuk kembali sehat. Selain itu, mereka juga dilatih dalam menjalin hubungan sosial yang baik untuk mencegah abnormalitas pola pikir dan kehidupan sosial. Sedangkan dari segi ekonomi, mereka akan difasilitasi untuk melakukan kegiatan bernilai ekonomi, seperti membuat kerajinan tangan khas Kalbar, dan sebagainya melalui terapi aktivitas kelompok yang memberi efek dalam melatih kesabaran. Diharapkan melalui program ini, orang dengan gangguan jiwa maupun individu rentan dapat hidup mandiri dan tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Dengan demikian, stigma dan diskriminasi pada kesakitan jiwa yang beredar di masyarakat akan berkurang, bahkan hilang, meningkatnya kesadaran untuk menjaga kesehatan rohani melalui kedekatan terhadap Tuhan dan menjalankan ajaran agama yang dianut, serta kesejahteraan masyarakat akan meningkat yang berdampak pada berkurangnya beban masyarakat, bangsa, dan Negara. 

Rabu, 27 Desember 2017

Jenis Kepemimpinan Otoriter

Satu diantara tipologi kepemimpinan berdasarkan teori tingkah laku, yaitu otoriter. Kepemimpinan otoriter lebih berorientasi pada tugas dan pendapatnya sendiri dalam menentukan kebijakan, serta tidak memberikan kesempatan kepada staf untuk berargumentasi. Adapun ciri-ciri gaya pemimpin otoriter, yaitu :
1.     Wewenang mutlak terpusat kepada pimpinan.
2.     Keputusan dan kebijakan selalu dibuat oleh pimpinan.
3.     Komunikasi berlangsung satu arah dari pimpinan kepada staf.
4.     Pengawasan terhadap staf dilakukan secara ketat.
5.     Prakarsa harus berasal dari pimpinan.
6.     Staf tidak memiliki kesempatan untuk berargumentasi.
7.     Tugas bagi staf diberikan secara instruktif.
8.     Lebih banyak kritik daripada pujian.
9.     Pimpinan menuntut prestasi sempurna dan kesetiaan mutlak tanpa syarat.
10.  Kepemimpinan cenderung bersifat memaksa, kaku, dan kasar.
11.  Keberhasilan organisasi merupakan tanggungjawab pimpinan.
Staf umumnya memandang gaya otoriter sebagai orang yang kuat atau bos dan wajib melaksanakan perintahnya agar tidak mendapatkan sanksi. Pemimpin otoriter meyakini kesuksesan lembaga yang dipimpinnya sangat bergantung kepada dirinya, sedangkan staf hanya sebagai pelaksana. Sehingga, staf tidak perlu berpartisipasi dalam perencanaan program kerja dan pengambilan kebijakan. Pola kepemimpinan otoriter berjalan efektif ketika pemimpin harus banyak mengambil keputusan tegas dalam menghadapi berbagai masalah. Gaya kepemimpinan otoriter dibagi menjadi tiga, yakni :
1.     Otokratis keras
Otokratis keras bersifat memegang teguh prinsip yang telah ditetapkan, tidak mau mendelegasikan wewenang, dan tidak menyenangi saran dari staf.
2.     Otokratis baik (lembut)
Otokratis baik bersifat adanya beban untuk bertanggungjawab dan baik terhadap staf.
3.     Otokratis inkompeten
Otokratis inkompeten memiliki sifat berusaha mendominasi, berkuasa mutlak, tidak imbang jiwanya, tingkah lakunya tergangtung emosi sesaat, dan memaksa staf mematuhi semua perintahnya tanpa mempertimbangkan kemampuan bawahan.

Referensi : Muflihin, M. H. (2008, April). Kepemimpinan Pendidikan : Tinjauan terhadap Teori Sifat dan Tingkah-laku. Insania, 13(1), 67-86.

Selasa, 26 Desember 2017

Keajaiban Murottal Qur'an bagi Kesehatan



Bismillahirrahmanirrahim.
Alquran adalah kitab suci agama Islam yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dan diyakini kebenarannya oleh umat muslim. Apabila membaca atau mendengarkan Alquran, maka dapat bernilai ibadah. Seni membaca Alquran atau tilawatil Quran merupakan memperindah bacaan Alquran yang bertajwid (hukum-hukum bacaan) dengan irama oleh seorang qori’. Menurut Anwar (2008), Al-Murottal merupakan kumpulan rekaman bacaan ayat-ayat Alquran dalam pita suara dengan memperhatikan tajwid, menjaga keluarnya huruf-huruf, dan waqaf (tanda berhenti) sebagai upaya untuk menguatkan (tahqiq) kelestarian Alquran, serta menyebarkan Alquran (Nirwana 2014). Alquran memiliki berbagai faedah, termasuk bagi kesehatan sesuai yang ada pada Quran Surah Al-Isra ayat 82, yaitu :
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌوَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّخَسَارًا
Artinya : “Dan Kami turunkan dari al-Quran suatu yang menjadi obat (penawar) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS 17: 82).
Lantunan Alquran secara fisik mengandung unsur suara manusia sebagai instrumen penyembuhan yang menakjubkan dan terjangkau. Suara dapat menurunkan hormon stres, mengaktifkan hormon endorfin alami, meningkatkan rileks, mengalihkan rasa takut, cemas dan tegang, memperbaiki sistem kimia tubuh, sehingga menurunkan tekanan darah serta memperlambat pernafasan, denyut nadi, dan aktivitas gelombang otak (Heru 2008). Alquran merupakan bentuk terapi kecemasan pada lansia. Terapi murottal membantu otak dalam memproduksi zat kimia, yakni neuropeptide yang dapat menguatkan reseptor tubuh dan memberikan umpan balik berupa kenikmatan dan kenyamanan (Indrajati, 2013; Sholikah 2014). Manfaat dari murottal menurut Siswatinah (2011) dalam Indrajati (2013) untuk mendapatkan ketenangan jiwa sesuai Quran Surah Al-A’raf ayat 203 – 204, yakni :
وَإِذَا لَمْ تَأْتِهِم بِـَٔايَةٍ قَالُوا۟ لَوْلَا ٱجْتَبَيْتَهَا ۚ قُلْ إِنَّمَآ أَتَّبِعُ مَا يُوحَىٰٓ إِلَىَّ مِن رَّبِّى ۚ هَٰذَا بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمْ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
وَإِذَا قُرِئَ ٱلْقُرْءَانُ فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُۥ وَأَنصِتُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya : “Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Quran kepada mereka, mereka berkata: "Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?" Katakanlah: "Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Quran ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat." (QS 7 : 203-204).
Hasil penelitian Uprianingsih (2013) membuktikan bahwa ada penurunan tingkat depresi pada lansia dengan memperdengarkan murottal surah Al-Baqarah (Sholikah 2014). Dalam penelitian lain, Upoyo, Ropi, dan Sitoru (2012) membuktikan bahwa adanya peningkatan nilai GCS pada pasien stroke iskemik melalui pemberian terapi murottal Alquran dengan durasi 30 menit selama 3 hari berturut-turut (Sholikah 2014). Ahmad Al Qadhi, direktur utama Islamic Medicine Institute for Education and Research di Florida, USA dalam Remolda dan Faradisi (2009) pada konferensi tahunan ke XVII Ikatan Dokter Amerika mengungkapkan bahwa mendengarkan bacaan Alquran mempengaruhi arus listrik di otot, sirkulasi darah, detak jantung, dan kadar darah di kulit, sehingga mereksasi atau menurunkan ketegangan saraf dalam mendilatasi (melebarkan) pembuluh darah dan perfusi darah, serta menurunkan frekuensi detak jantung (Pratiwi, Hasneli, and Ernawati 2015).
Dengan demikian, hendaklah kita memperbanyak membaca dan memaknai Alquran karena terdapat banyak keutamaan dan faedah, seperti meningkatkan derajat kesehatan.
Wallahu a’lam bishawab.
Daftar Pustaka
Heru, Basuki S. A. M. 2008. Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Nirwana. 2014. Pengaruh Terapi Murottal Al-Qur’an Terhadap Perubahan Tingkat Kecemasan Pasien Diabetes Mellitus Di RSUD Labuang Baji Makassar. Makasar.
Pratiwi, Laras, Yesi Hasneli, and Juniar Ernawati. 2015. “Pengaruh Teknik Relaksasi Benson Dan Murottal Al-Qur’an Terhadap Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Primer.” JOM 2(2): 1212–20.
Sholikah, Siti. 2014. “Pengaruh Pemberian Terapi Mendengarkan Ayat-Ayat Alqur’an Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Pada Lansia Di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Pasuruan Kecamatan Babat Lamongan.” Surya 4(XX): 1–7.

Lydia Yuniarsih
Departemen KKIA FULDFK
Lihat juga informasi lainnya disini

Kaos Kaki Jempol Tapak Hitam

Kaos Kaki Jempol _____________________________________________________ Bahan lembut, lentur, nyaman di kaki dan telapak hitam, jadi tidak mu...