Tampilkan postingan dengan label Goresan Pena. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Goresan Pena. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 September 2018

Presentasi Lomba Mading

Semangat pagi teman-teman. Seperti yang telah Lyd posting beberapa tahun silam. Kini, Lyd membagikan ulang mengenai teks presentasi lomba mading pasca SMA. Why? Yah, karena kangen aja nostalgia SMA yang melahirkan banyak kisah. Ternyata masa SMA memang sulit tergantikan ya, zaman belajar bersosialisasi dengan sebenar-benarnya dan mencari jati diri yang hendak kemana mengarah. And disini lah Lyd sekarang, masih bergulat dengan aktivitas yang sejalan meski tak serupa, masih seputar aktivis biasa. But, dari kerikil kecil ini lah Lyd belajar hidup bagaimana pentingnya tetap menjadi kecil meskipun telah besar. Note bukan menyindir tubuh ini yang nggak bisa tinggi lagi ya haha, namun belajar agar tetap sederhana meskipun telah melanglang buana. Lagi-lagi why? Cause kita lahir dari kesederhanaan, untuk membagikan hal-hal yang luar biasa, and orang-orang yang masih sederhana sebab belum memperlihatkan potensinya akan ciut menampakkan diri pada orang-orang yang meninggikan diri. Kesimpulannya adalah sebesar apapun kita, butuh generasi penerus yang bisa melanjutkan cita-cita kita karena hidup ini hanya sejenak dan boleh jadi dari orang-orang yang kita papah untuk bangun bersama dapat menuntun kita ke surga-Nya Allah kelak.  Aamiin.
Dah ah, bicaranya makin ngalor ngidul aja, maklumin yah masih stase praktik kuliah, ini sekedar edisi menghibur diri dan melupakan segenap permasalahan sejenak. Mulai lagi deh. Haha. Oke lanjut ya teman-teman. :)

بسم الله الر حمن الر حيم
Assalamu’alaikum wr.wb.
Yth.dewan juri beserta saudara-saudaraku seaqidah yang berbahagia.
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah atas limpahan rahmat dan nikmat-Nya yang tiada tara, diantaranya nikmat bernafas, menjalin indahnya ukhwah, dan nikmat iman yang membuat kita masih istiqomah dijalan-Nya hingga detik ini. Semoga hingga ajal memisahkan, aamiin. Salawat dan salam tak lupa kami curahkan kepada baginda Rasullullah SAW, potret sosok pemuda tauladan yang menjunjung tinggi nilai ukhwah dalam semangat kobaran dakwahnya.
Terimakasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada kami, perkenankanlah kami untuk memperkenalkan diri. Nama saya … sebagai … Kami berasal dari Rohis Al-Fath SMA Negeri 2 Sungai Kakap.
Pada kesempatan kali ini, kami akan mempresentasikan buah karya mading kami yang bertema “Ukhwah Islamiyyah” dengan judul “Indahnya Dakwah Dalam Jalinan Ukhwah Islamiyyah”. Kami harap, mading yang kami sajikan tidak hanya sebagai sebuah karya belaka, tetapi juga dapat menjadi media berekspresi dalma jalur dakwah yang bermanfaat bagi kita semua, InsyaAllah. Rasullullah bersabda “Sampaikanlah dariku walaupun 1 ayat.”
Nah, beberapa hasil karya seni baik berupa tulisan maupun gambar yang kami tampilkan di sini, diantaranya miniatur masjid 3 dimensi, orang-orangan, puisi, pantun, cerpen, kata-kata motivasi, komik mini, dan sebagainya.
Nah, kami akan memberikan penjelasan mengenai mading kami ini.
Mading disusun dengan tata sedotan yang merapat dan dengan beberapa paduan warna  pada sekelilingnya, yang dimana merupakan simbol bahwa jalinan Ukhwah Islamiyyah akan kuat apabila terdapat ikatan yang erat karena Allah SWT. Sedangkan letaknya yang berada ditepi bermakna bahwa Ukhwah Islamiyyah yang kuat akan turut mengokohkan Islam dalam melalui berbagai ujian. Karena dengan adanya ikatan akan timbul suatu kebersamaan untuk saling menasehati dalam kebenaran maupun kesabaran, sesuai yang tertuang dalam QS.Al-Ahsr ayat 3.
Untuk karya-karya yang kami tempel diatas sebuah karton usang juga memiliki makna tersendiri, dimana setiap keburukan dan kekurangan akan terlengkapi oleh kebaikan yang didasarkan pada saling mengingatkan saudaranya. Dan taburan beras yang warna-warni juga turut melambangkan perbedaan yang tak jadi penghalang untuk menjalin ukhwah antar sesama muslim karena Allah melihat berdasarkan Iman dan ketakwaannya. Serta perbedaan itu indah karena dapat saling mengisi kekosongan dan mengingatkan.
Salam redaksi merupakan salam pembuka dalam memulai perkenalan kami dengan antum untuk menjalin keakraban Ukhwah Islamiyyah.
Miniatur masjid 3 dimensi yang kami buat berbahan dasar stroaform yang dibentuk menyerupai replikasi mini dari sebuah masjid . Miniatur masjid 3 dimensi memberikan lambing bahwa kubah merupakan tempat dimana seluruh umat mulim bersatu tanpa ada kasta dalam satu tujuan, yaitu karena Allah. Masjid menjadi penghubung antara hablumminallah dan hablumminannas.
Di sini kami juga melengkapi dengan orang-orangan berbahan dasar alam, berupa sabut kelapa dan daun kelapa yang disusun seolah-olah sedang bergenggaman tangan. Ini mengisyaratkan agar umat muslim hendaknya saling bersatu menjalin ukhwah untuk menghindari perpecahan yang dapat meruntuhkan Islam. Allahu Akbar!
Kemudian, ada puisi yang berjudul “Ukhwah Hingga Ke Jannah” yang melukiskan bahwa manusia merupakan mahluk Allah yang lemah, tak luput dari kekurangan. Akan tetapi, Allah yang Maha Penyayang selalu menolong dan memberi nikmat kepada hamba-hamba-Nya yang bersyukur. Salah satunya berupa kehidupan social dimana manusia bisa menjalin tali silaturahmi dengan sesamanya karena manusia merupakan mahluk sosial yang tak bisa hidup sendiri dan membutuhkan orang lain.
Selain itu, ada beberapa buah foto kegiatan 1 Muharram 1435 H yang diadakan oleh Rohis Al-Fath, yaitu Pawai Ta’aruf sebagai ajang untuk menjalin Ukhwah Islamiyyah, khususnya bagi siswa-siswi SMA Negeri 2 Sungai Kakap. Selain itu ada beberapa kata motivasi, tips, dan hadist yang merupakan salah satu media dakwah untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.
Kemudian, salah satu potret seorang tokoh, yaitu Sultan Muhammad Al-Fatih, merupakan salah satu pemuda Islam yang memiliki tekad kuat, taat pada perintah Allah, sehingga dapat dijadikan panutan bagi kita, generasi Islam masa kini. Beliaulah yang membuka konstatinopel pada usianya yang masih belia.
Selanjutnya ada pantun yang berisi dakwah dalam hal menegakkan tiang agama, yaitu sholat. Selanjutnya ada sebuah dongeng inspiratif yang berjudul “Sama Seperti Kambing”. Menceritakan bahwa perilaku manusia yang mengingkari perintah Allah sama halnya seperti hewan yang tak memiliki akal. Padahal manusia tak hanya dibekali hati oleh Allah, tetapi juga akal pikiran agar dapat menentukan yang baik dan buruk.
Tak lupa kami menyertakan cerita bergambar atau komik mini sebagai media hiburan dan merupakan salah satu dakwah dengan tokoh kartun umum yang sering ditemui kini, yaitu Naruto. Naruto dalam cergam ini dengan versi Islami untuk mengingatkan pentingnya sholat berjama’ah yang jua memiliki hubungan dengan ukhwah.
Sekianlah presentasi dari kami, semoga bermanfaat bagi kita semua. Terimakasih atas perhatiannya dan afwan jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.
Akhirul kalam, Wassalamu’alaikum wr.wb.



Tarian Hujan

 

Prahara realita alam pertiwiKeserakahan

Hijaunya layu, bahkan dibakar

Pesan murka jangan dicari

Kekeringan

Habiskan hutan tanpa sadar

Biarkan tiba masanya

Musim hujan

Basahi bumi Indonesia

Memberikan kehidupan

Rintikan lentik menari

Meneteskan kenikmatan

Ragam khazanah negeri

Pontianak, 21 Juni 2016

Tak Cukup Setahun


1 Januari 2014
(Lila)
Terlahir sebagai seorang anak pengidap berbagai penyakit komplikasi yang membuatku sulit tuk beradaptasi dengan lingkunganku. Kesuraman masa depan yang selalu menghantuiku karena fisikku yang begitu lemah. Akan tetapi, hal ini dapat tertutupi dengan keadaan orang tuaku yang cukup berada. Andaikan aku dilahirkan dari keluarga fakir, aku rasa aku telah tiada di dunia ini.
Entah berapa banyak obat-obatan yang kutelan, melewati tenggorokanku, beroperasi di dalam tubuhku. Aku berusaha mensyukuri detak jantung dan denyut nadiku di antara senyum dan kebimbangan diriku, maupun orang tuaku. Walau terkadang, aku mengutuk, menggerutuki diriku sendiri yang hadir ke dunia membawa lingkaran kesukaran buat orang-orang di sekitarku. Seolah parasit yang pernah hadir di alam semesta ini.
Terhenti sejenak dalam aktivitas kualami kembali tadi pagi. Asmaku kambuh walaupun hanya beberapa menit berlalu karena papa dan mama telah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi padaku dalam setiap detik. Karena kasih sayangnya, mereka menyiapkanku alat-alat yang mempermudah untuk mengatasi seketika saat penyakitku kambuh. Terkadang aku malu sendiri karena telah menyusahkan mereka, namun ketulusan mereka membuatku tegar menjalani beratnya hidupku.
Kenyataan pahit, tetapi sembilan puluh sembilan persen lebih baik telah menguatkan tekad papa yang harus kuterima dengan lapang dada. Kami harus pindah ke pedesaan. Keputusan papa sudah bulat, aku harus menjalani terapi dengan hidup di desa yang bersih. Kuanggukkan kepala dengan setengah hati. Tak ada alasan untukku menolak secara jelas. Kali ini aku mundur, mungkin tuk mengalah.
Hanya saja sekejap mata aku terdiam tuk berpikir, dapatkah aku beradaptasi dengan lingkungan baruku? Sejenak terlintas bayangan yang begitu asing. Aku bukanlah sang pemilik sifat ceria, malah cenderung pemurung dan pendiam. Sepengetahuanku, di pedesaan kehidupan amatlah karib. Sedangkan aku lebih senang berdiam diri di rumah atau mengurung diri di kamar. Aku cuek dengan lingkunganku karena aku tak butuh mereka, tak ada yang memperdulikanku, pikirku.
*   *   *   *   *
29 Februari 2014
(Rudi)
Mengagumimu sedari pertama melihatmu lewat kata-kata sederhana yang tak terucapkan. Walau menoleh sedikitpun tiada kau mau. Enggan tuk bertegur sapa dalam ikatan persaudaraan teman sekelas. Teman-teman mengatakan kau begitu angkuh dan sombong, seolah alergi terhadap kami, tetapi hal itu tidak berlaku bagiku. Aku tahu, dibalik mata indahmu yang redup, menyimpan suatu luka atau penderitaan yang tak kutahu jelas alasannya. Aku tak berani bertanya langsung. Aku takut melukaimu.
Kau manis, tetapi pelit pada senyuman. Sebulan sudah kita sekelas, tapi kau tak pernah tersenyum. Berbicara pun ala kadarnya saat pelajaran berlangsung. Kau cerdas, tetapi tak hendak menunjukkannya. Jika kau berdiskusi atau mencalonkan menjadi ketua OSIS, aku yakin banyak yang memihakmu. Kau anak orang kaya, sedangkan aku berasal dari keluarga sederhana. Kecut nyaliku berhadapan di depanmu. Mereka dari keluarga elit saja, kau tak perdulikan, apalagi aku. Walaupun tampilanmu terlihat biasa dan cenderung sederhana. Namun, apapun bagiku kau terlihat istimewa.
*   *   *   *   *
11 Maret 2014
(Lila)
Aku menangisi kekejaman hidupku. Menyendiri tanpa seseorang yang rela menjadi temanku tuk mendengar keluh kesahku. Aku menginginkan kehidupan nyata yang apa adanya. Beberapa minggu telah kulalui, namun belum seorang temanpun yang kukenal. Aku hanya mengetahui namanya dari bibir sang guru yang menyebut nama siswanya satu persatu. Sekalipun dia yang duduk di sampingku. Lingkungan yang begitu dingin seakan tak menerima kehadiranku.
Pengagum rahasiaku. Aku tak tahu siapa dia dan mungkin tak ingin tahu. Lukisan kata-katanya begitu indah kubaca, namun apabila hendak kuserap, tetap saja terasa bagiku hampa.  Aku rasa, dia hanya mempermainkanku. Nurani yang agaknya telah membeku dalam kesunyian. Aku tak butuh mereka. Benarkah ungkapan ini? Tetapi mengapa aku mendamba seorang teman. Pertanyaan atas jawaban yang belum dapat kuterima hingga saat ini. Aku meresapi kesendirianku dalam diam. Sepi…
*   *   *   *   *
15 April 2014
(Rudi)
Tak ada reaksi atas surat rahasiaku. Apakah kau benar-benar angkuh? Aku kini mulai ragu. Tetapi tak ada alasan yang kuat tuk menyatakan kesombonganmu. Ataukah tulisanku tak menyentuh hati nuranimu untuk sedikit melirik orang di sekitarmu? Mungkinkah kau rindukan masa lalumu? Kenanganmu ketika bersekolah di daerah perkotaan? Atau kau tidak betah bersekolah di kampung halaman tempat kami bernaung? Aku hanya menyusun pertanyaan tanpa bermaksud menuduhmu. Aku hanya pengagum rahasiamu.
Baiklah. Aku akan mencoba menyapamu ketika esok sang mentari menampakkan diri. Saat cerahnya pagi datang, kuharap senyum pertamamu di sini menjadi milikku. Terlalu puitis dan mendamba, tetapi aku bukanlah orang yang berjiwa pengecut dan mudah putus asa. Kerikil dan jurang terjal dalam rentang kehidupan saja mampu kulalui. Aku telah terbiasa dengan kerasnya kehidupan. Tetapi tak bermaksud tuk menaklukkan dirimu dan memikat hatimu. Hidup adalah sebuah proses. Setidaknya menjadi temanmu merupakan kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri yang kini tengah hadir dalam khayalku.
*   *   *   *   *
17 April 2014
(Lila)
Apakah aku terlihat begitu sombong dengan dunia luar? Teman-teman yang menyapa, kuabaikan begitu saja. Sering pula kutinggalkan tanpa respon. Kini aku mulai berpikir ulang, mereka yang tak bersahabat denganku atau aku yang berusaha menjauh dari dunia ini? Aku hanya tak ingin bersikap berlebihan. Aku butuh seseorang yang dapat mengikuti jalan pikiranku dan membenahi atau meluruskannya secara perlahan ketika dalam perjalanan. Bukan menuangkannya dalam bentuk nasehat yang menyulut amarah, memuakkan aku.
Jika di hari esok aku merasakan mood yang bagus, aku berharap akan ada kesempatan mereka kembali menegurku, maka akan kusambut uluran tangan itu. Ya, hanya sekedar menyemarakkan suasana. Mencairkan keadaan di sekelilingku yang terasa asing. Aku bukannya tak ingin menjadi bagian dari kalian, menyombongkan diri seolah ratu seperti dalam pikiran kalian. Tetapi aku tak ingin kecewa dengan karakterku yang dianggap aneh ini. Aku malah justru takut akan mempermalukan diriku sendiri di hadapan kalian.
*   *   *   *   *
21 Juni 2014
(Rudi)
Kau tampak anggun dengan jilbab yang membalut wajahmu dengan rapi. Manis. Layak jika ku beri salam daripada kata selamat pagi, begitu pikirku. Walaupun janggal karena selama ini tak pernah kudengar ada seseorang yang mengucapkan salam padanya. Tapi aku akan mencoba karena bukankah menjawab salam merupakan sebuah kewajiban bagi seorang muslim. Aku yakin akan ada reaksi.
“Assalamu’alaikum”
Kau mengangkat kepalamu dan mendesis pelan, “Wa’alaikum salam,” dan tersenyum kecil.
Terima kasih. Aku melonjak kegirangan walaupun tak di depanmu. Seharian aku  senyum sumringah mengingat kejadian pagi tadi. Usahaku tak sia-sia hari ini. Semuanya menjadi melebur dalam rasa yang bercampur aduk. Namun yang ku risaukan, akankah esok hari, berlaku momen yang sama. Aku berharap tak ada satupun momen istimewa yang akan terlewat esok walaupun di dalam detik yang berlainan.
Kelak kau harus tahu, perlahan aku menimbun kasih sayang dalam hatiku. Aku biarkan ia hidup dan kupupuk karena aku tak ingin membiarkannya layu ataupun mencabutnya secara paksa. Kasih ini berlaku dalam banyak posisi. Entah sebagai teman, sahabat, saudara, atau kekasih. Anganku mengharapkan sebuah kedudukan yang terbaik sebagai pilihan hidup. Yang penting, sekarang aku sayang kamu.
*   *   *   *   *
22 Juni 2014
(Lila)
Benarkah? Sungguh seperti harapanku di hari kemarin bahwasanya ada seseorang yang menegurku, justru malah dengan salam yang sopan pula. Subhanallah. Tetapi ada yang kuragukan. Aku tak mengetahui namamu, mengenalmu, bahkan mengingat wajahmu. Apakah kau hanya mengejekku atau setulus hatimu? Tahukah kau? Aku berharap penggemar rahasiaku seperti dirimu.
Tak kusangka, Tuhan begitu baik kepadaku. Mengabulkan permintaanku lebih dari apa yang kuharapkan. Pikiranku melayang bersama khayal dalam harapan yang terus meninggi. Takkan kubiarkan harapanku lepas di awan. Kan kupegang erat. Tapi, mengapa aku terlalu berlebihan menanggapi hal ini? Aku tak perduli, yang penting aku sedikit lebih senang.
*   *   *   *   *
Ternyata pertemuan yang bukan untuk pertama kali itu menghanyutkan Rudi dan Lila. Berharap keajaiban antara satu sama lain. Masa yang indah belum terjamahkan oleh usia jagung mereka. Masih dalam lorong waktu yang kelak kan menggapai mereka dalam dimensi waktu yang berjalan bersama detak jantung yang bertambah. Larut dalam mimpi mengukir cerita membuat kondisi Lila jauh lebih baik daripada yang sebelumnya. Setidaknya ada yang menghapus setitik kesepian dan kejenuhannya untuk terus berdiri di dunia ini.
“Kita sahabat?” tanya Rudi sambil mengacungkan jari kelingkingnya yang kemudian disambut oleh Lila.
“Oke”.
Berminggu-minggu dijalani dengan aktivitas baru dan nuansa baru, lantas membuat Lila merasa suasana desa jauh lebih hangat daripada di kota yang hiruk pikuk dengan problem kehidupan. Lila kerap kali tersenyum mengembang dengan keakraban yang merakyat, bisa tertawa lepas manakala Rudi mengajaknya bermain ke sawah, bisa belajar mengungkapkan apa yang dirasakannya,  yang kini tak selalu dipendamnya lagi dalam kesepian.
*   *   *   *   *
11 Juli 2014
(Lila)
Aku merasa sangat bahagia. Ada secercah cahaya di hidupku, seorang insan berhati malaikat yang dikirim Tuhan untukku tatkala aku merasa bahwa Tuhan itu tidak adil. Terimakasih Tuhan. Hari-hariku yang dahulunya penuh kebosanan dan kekecewaan, kini telah berubah seratus delapan puluh derajat. Aku bisa tertawa, bernyanyi, menari sesukaku, berlari bebas ke sana kemari. Bahkan aku bisa berbicara layaknya orang normal di luar sana.
Mengapa bahagia itu baru datang sekarang? Andaikan dahulu lebih awal, tentu aku lebih bertahan menjalani hidupku. Rudi benar-benar membawaku ke dalam dunianya. Sampai-sampai aku terlupa, bahwa aku jauh lebih lemah daripada yang dia maupun aku bayangkan. Bahkan aku beberapa kali terjatuh saat menjelajahi sawah, demam saat berlari dalam hujan, sesak napas saat ketakutanku datang, dan pingsan seketika tanpa ada sebab yang tampak secara jelas.
Namun Rudi, sahabat yang setia menemaniku. Aku kerap menangis, bukan karena dia menyakitiku, namun karena ketulusannya menjadi sahabat karibku. Aku belum pernah merasa kasih sayang selain cinta papa dan mama selama ini. Papa dan mama juga mempercayainya untuk menjagaku saat bermain di luar sana. Mungkin mereka yang lain telah melalui masa ini, namun aku jujur, aku baru merasakannya di sini. And i’m very happy.
*   *   *   *   *
7 November 2014
(Rudi)
Antara percaya dan tidak, semua tentang kita tinggal kenangan. Hatiku hancur berkeping-keping dalam luka mendalam manakala suara itu dari kejauhan mengabariku. Dengan perasaan tak menentu aku mendatangi rumahmu secepat mungkin. Aaaaa tegaaaaa. Mengapa kau pergi secepat ini sayang? Bahkan aku belum sempat menyatakan isi hatiku. Mengapa kau tak pernah menceritakan penyakitmu?
Oh Tuhan, sebegitu sayangnya kah kau pada Lila hingga kau panggil dia secepat ini saat aku belum sadar bahwa semua ini nyata. Kemarin Lila masih dalam genggamanku dan hari ini, aku memandangimu untuk terakhir kali dengan air mata yang tak henti mengalir sebelum kau akan beristirahat di pembaringan terakhir. Tuhan, jikalau tak kau izinkan aku memilikinya di dunia ini, berikanlah aku Lila di surgamu kelak, doaku dalam sedih kehilangan.
Aku iringi Lila hingga ada dinding pemisah di antara kami. Aku tak lagi mampu menahan tangis dukaku saat melihat Lilaku dimasukkan ke liang lahat. Sampai-sampai kakiku melemah dan tak mampu berdiri. Hingga sore hari, tepat pukul 4 aku masih berada di samping makam Lila.
Ya, aku memang menunggu pukul 4 untuk mengulang kisah tanggal 14 Juli silam. Saat pertama kali aku mengajakmu merambah ke duniaku. Saat aku masih bisa tertawa lepas denganmu yang masih bertahan dengan napasmu. Ternyata pergimu begitu cepat sayang sehingga aku belum bersiap diri. Masih banyak lembaran list harapan yang hendak kucapai bersamamu. Ah Lila...
Matahari mulai tenggelam, kusudahi pertemuan denganmu, untuk selang beberapa waktu aku mungkin tak akan datang padamu sayang. Bukan untuk alasan membencimu tapi aku tak sanggup melihatmu, mengingatmu, mengenangmu dalam kisah yang tak sampai setahun lamanya. Saat daun kamboja berguguran tertiup angin, aku pulang dengan kehampaan yang diselipi sejuta kenangan indah.
Pontianak, 24 Januari 2014


Kamis, 28 Desember 2017

Kontribusiku untuk Agama, Bangsa, dan Negara di Masa yang Akan Datang

Saya merupakan mahasiswi Universitas Tanjungpura angkatan 2014 dengan spesialisasi prodi Ilmu Keperawatan. Dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga dengan latar belakang sederhana tidak menyurutkan niat saya untuk bermimpi. Sejak kecil, saya telah dididik untuk bekerja keras dan menghargai setiap usaha karena biaya pendidikan akademik yang saya tempuh berdasarkan hasil banting tulang kedua orang tua saya. Dalam menjalani proses pendidikan, saya selalu berusaha memberikan yang terbaik, setidaknya melalui prestasi setiap semester yang membuat orang tua saya tersenyum bangga bahwasanya hasil kerja keras mereka tidak sia-sia. Proses dan pengalaman inilah yang secara tidak langsung memotivasi saya untuk memberikan pengaruh besar di masa  depan melalui dunia kesehatan, terutama keperawatan. Pada awalnya saya merasa bingung bagaimana orang biasa seperti saya dapat berkontribusi bagi agama, bangsa, dan Negara Indonesia, sedangkan di luar sana begitu banyak orang-orang hebat yang hanya  mementingkan diri sendiri. Akan tetapi, saya menyadari bahwa pendidikan yang saya enyam menuntut saya untuk berperan bagi kemajuan peradaban.
Setiap orang bertumpu pada jalur kehidupannya masing-masing. Saya merupakan satu di antara anak bangsa yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan kelak akan berupaya berkontribusi bagi agama, bangsa, dan Negara tercinta sesuai  praktik keperawatan profesional. Semenjak memasuki stase praktik komprehensif rumah sakit, saya disuguhi dengan berbagai paradigma dan problematika manusia sebagai mahluk yang unik dengan beragam karakter. Seringkali pasien di rumah sakit hanya mengagungkan tenaga medis dan kesehatan dalam proses penyembuhan, tanpa menyadari bahwa kekuatan terbesar berasal dari Tuhan. Padahal, keseimbangan tubuh individu tidak hanya secara fisik, namun juga secara mental. Sehingga, tak jarang individu yang terlihat sehat secara biologis tetapi dinyatakan sakit  kondisi jiwanya. Meningkatnya permasalahan kesehatan mental di kalangan masyarakat karena tekanan hidup yang semakin marak seiring dengan perkembangan zaman tanpa diiringi pemahaman spiritual.
Buruknya stigma masyarakat bagi kesakitan jiwa  berakibat kesenjangan kesejahteraan hidup bagi penderita gangguan jiwa. Dampak yang ditimbulkan, seperti meningkatnya angka pengangguran dikarenakan mereka tidak mampu hidup secara mandiri, sehingga menambah beban masyarakat dan Negara. Bahkan, mantan penderita gangguan jiwa sering tidak memperoleh dukungan dari keluarga dan masyarakat, akan tetapi mendapatkan perlakuan diskriminatif yang menimbulkan tekanan dan kekambuhan, serta memperparah kondisi mereka. Berdasarkan problematika di atas, saya ingin mengangkat sebuah gagasan mental health center berbasis lingkungan yang berfungsi sebagai langkah preventif dan rehabilitatif bagi individu beresiko mengalami gangguan jiwa maupun mantan penderita gangguan jiwa. Alasan digunakan lingkungan dalam program ini agar mereka dapat hidup dan tinggal secara normal tanpa harus dikucilkan. Program ini bertujuan untuk membina spiritualitas, sosial, dan pemberdayaan ekonomi.

Dalam pelaksanaannya, perlu dilakukan pembinaan mental secara spiritual sesuai kepercayaan yang dianutnya untuk mencegah kejadian maupun kekambuhan gangguan jiwa. Pemahaman agama dan keyakinan yang baik dapat memperbaiki tingkat stress, membantu menemukan jati diri, dan tujuan hidup, sehingga memotivasi untuk kembali sehat. Selain itu, mereka juga dilatih dalam menjalin hubungan sosial yang baik untuk mencegah abnormalitas pola pikir dan kehidupan sosial. Sedangkan dari segi ekonomi, mereka akan difasilitasi untuk melakukan kegiatan bernilai ekonomi, seperti membuat kerajinan tangan khas Kalbar, dan sebagainya melalui terapi aktivitas kelompok yang memberi efek dalam melatih kesabaran. Diharapkan melalui program ini, orang dengan gangguan jiwa maupun individu rentan dapat hidup mandiri dan tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Dengan demikian, stigma dan diskriminasi pada kesakitan jiwa yang beredar di masyarakat akan berkurang, bahkan hilang, meningkatnya kesadaran untuk menjaga kesehatan rohani melalui kedekatan terhadap Tuhan dan menjalankan ajaran agama yang dianut, serta kesejahteraan masyarakat akan meningkat yang berdampak pada berkurangnya beban masyarakat, bangsa, dan Negara. 

Selasa, 26 Desember 2017

Siapkah Untuk Jatuh Cinta?

Bismillahirrahmanirrahim

Cinta… hadir tanpa pernah diundang. Lantas, apa yang salah dari cinta? Bukankah hal yang fitrah bagi setiap insan. Duh, temanya cinta lagi? Jadi gimana dong? Jika tidak sering diingatkan, malah kelupaan. Trus, apa nggak boleh jatuh cinta? Yuk kita bahas.
“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra)
Cinta merupakan satu di antara tema yang tak lekang dimakan zaman. Tatkala rasa cinta mulai tumbuh pada muda mudi, maka hanya ada dua pilihan, yaitu halalkan (menikah) atau lupakan. Cinta ibarat dua sisi mata pedang, yang satu sisinya adalah berkah, sedangkan sisi lainnya ialah fitnah, sehingga cinta memerlukan kesiapan dan persiapan. So, sudah siapkah untuk jatuh cinta?
Cinta yang sesungguhnya akan tercermin dalam perbuatan, bukan sekedar perkataan. Kalimat ini kerap disalahartikan oleh sebagian muda mudi yang dimabuk kasmaran. Dilema masa kini, kebanyakan cinta diagungkan dan pelanggaran dianggap suatu kewajaran. Katanya sebagai bukti cinta, padahal jelas merusak hakikat cinta sesungguhnya.
Cinta sering diorientasikan melalui romantika sepasang kekasih. Cinta memang butuh pembuktian, namun melalui sebuah deklarasi yang telah diperintahkan oleh Allah, yaitu akad. Maka dengan itu, pacaran yang haram akan menjadi halal, justru menjadi jembatan menuju ridho Allah. Adakalanya cinta yang halal menjadi pengikat dari keingkaran akan nikmat-Nya.
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tiada putus-putusnya.”
Nah, kini kembali pada diri kita, apakah akan bersabar dengan memuliakan diri untuk tidak pacaran dan menjaga kesucian? Atau tega merendahkan dan menghinakan diri dengan pacaran dan terjerat dalam kemaksiatan? Setiap orang yang beriman, tentu akan memilih bersabar atas dasar cinta terbesar kepada Rabbnya.
Betapa Islam begitu indah, memuliakan perasaan cinta. Semua akan indah pada waktunya, ungkapan bijak yang memang demikian adanya. Pacaran setelah nikah itu indah karena leluasa untuk mengekspresikan cinta. So, sudah siap jatuh cinta?

Lydia Yuniarsih (KKIA_FULDFK)

Keajaiban Murottal Qur'an bagi Kesehatan



Bismillahirrahmanirrahim.
Alquran adalah kitab suci agama Islam yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dan diyakini kebenarannya oleh umat muslim. Apabila membaca atau mendengarkan Alquran, maka dapat bernilai ibadah. Seni membaca Alquran atau tilawatil Quran merupakan memperindah bacaan Alquran yang bertajwid (hukum-hukum bacaan) dengan irama oleh seorang qori’. Menurut Anwar (2008), Al-Murottal merupakan kumpulan rekaman bacaan ayat-ayat Alquran dalam pita suara dengan memperhatikan tajwid, menjaga keluarnya huruf-huruf, dan waqaf (tanda berhenti) sebagai upaya untuk menguatkan (tahqiq) kelestarian Alquran, serta menyebarkan Alquran (Nirwana 2014). Alquran memiliki berbagai faedah, termasuk bagi kesehatan sesuai yang ada pada Quran Surah Al-Isra ayat 82, yaitu :
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌوَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّخَسَارًا
Artinya : “Dan Kami turunkan dari al-Quran suatu yang menjadi obat (penawar) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS 17: 82).
Lantunan Alquran secara fisik mengandung unsur suara manusia sebagai instrumen penyembuhan yang menakjubkan dan terjangkau. Suara dapat menurunkan hormon stres, mengaktifkan hormon endorfin alami, meningkatkan rileks, mengalihkan rasa takut, cemas dan tegang, memperbaiki sistem kimia tubuh, sehingga menurunkan tekanan darah serta memperlambat pernafasan, denyut nadi, dan aktivitas gelombang otak (Heru 2008). Alquran merupakan bentuk terapi kecemasan pada lansia. Terapi murottal membantu otak dalam memproduksi zat kimia, yakni neuropeptide yang dapat menguatkan reseptor tubuh dan memberikan umpan balik berupa kenikmatan dan kenyamanan (Indrajati, 2013; Sholikah 2014). Manfaat dari murottal menurut Siswatinah (2011) dalam Indrajati (2013) untuk mendapatkan ketenangan jiwa sesuai Quran Surah Al-A’raf ayat 203 – 204, yakni :
وَإِذَا لَمْ تَأْتِهِم بِـَٔايَةٍ قَالُوا۟ لَوْلَا ٱجْتَبَيْتَهَا ۚ قُلْ إِنَّمَآ أَتَّبِعُ مَا يُوحَىٰٓ إِلَىَّ مِن رَّبِّى ۚ هَٰذَا بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمْ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
وَإِذَا قُرِئَ ٱلْقُرْءَانُ فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُۥ وَأَنصِتُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya : “Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Quran kepada mereka, mereka berkata: "Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?" Katakanlah: "Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Quran ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat." (QS 7 : 203-204).
Hasil penelitian Uprianingsih (2013) membuktikan bahwa ada penurunan tingkat depresi pada lansia dengan memperdengarkan murottal surah Al-Baqarah (Sholikah 2014). Dalam penelitian lain, Upoyo, Ropi, dan Sitoru (2012) membuktikan bahwa adanya peningkatan nilai GCS pada pasien stroke iskemik melalui pemberian terapi murottal Alquran dengan durasi 30 menit selama 3 hari berturut-turut (Sholikah 2014). Ahmad Al Qadhi, direktur utama Islamic Medicine Institute for Education and Research di Florida, USA dalam Remolda dan Faradisi (2009) pada konferensi tahunan ke XVII Ikatan Dokter Amerika mengungkapkan bahwa mendengarkan bacaan Alquran mempengaruhi arus listrik di otot, sirkulasi darah, detak jantung, dan kadar darah di kulit, sehingga mereksasi atau menurunkan ketegangan saraf dalam mendilatasi (melebarkan) pembuluh darah dan perfusi darah, serta menurunkan frekuensi detak jantung (Pratiwi, Hasneli, and Ernawati 2015).
Dengan demikian, hendaklah kita memperbanyak membaca dan memaknai Alquran karena terdapat banyak keutamaan dan faedah, seperti meningkatkan derajat kesehatan.
Wallahu a’lam bishawab.
Daftar Pustaka
Heru, Basuki S. A. M. 2008. Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Nirwana. 2014. Pengaruh Terapi Murottal Al-Qur’an Terhadap Perubahan Tingkat Kecemasan Pasien Diabetes Mellitus Di RSUD Labuang Baji Makassar. Makasar.
Pratiwi, Laras, Yesi Hasneli, and Juniar Ernawati. 2015. “Pengaruh Teknik Relaksasi Benson Dan Murottal Al-Qur’an Terhadap Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Primer.” JOM 2(2): 1212–20.
Sholikah, Siti. 2014. “Pengaruh Pemberian Terapi Mendengarkan Ayat-Ayat Alqur’an Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Pada Lansia Di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Pasuruan Kecamatan Babat Lamongan.” Surya 4(XX): 1–7.

Lydia Yuniarsih
Departemen KKIA FULDFK
Lihat juga informasi lainnya disini

Kaos Kaki Jempol Tapak Hitam

Kaos Kaki Jempol _____________________________________________________ Bahan lembut, lentur, nyaman di kaki dan telapak hitam, jadi tidak mu...